You are currently viewing Awali Pagi dengan Kelembutan Roma Bonita: Wujud Nyata Sekolah Ramah Anak di SMP Negeri 9 Malang

Awali Pagi dengan Kelembutan Roma Bonita: Wujud Nyata Sekolah Ramah Anak di SMP Negeri 9 Malang

Malang – Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah konsep pendidikan yang holistik. Ia tidak hanya berbicara tentang perlindungan dari kekerasan, tetapi juga tentang pemenuhan hak dasar anak, termasuk hak atas kesehatan dan lingkungan yang bersih. Sekolah harus menjadi inkubator yang menjamin siswanya tumbuh sehat secara fisik dan matang secara karakter.

Berangkat dari semangat deklarasi yang telah dikumandangkan, SMP Negeri 9 Malang mewujudkan komitmen tersebut melalui aksi nyata yang sederhana namun bermakna: sarapan bersama sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.

Energi Pagi dari Roma Bonita

Mengapa kegiatan ini dilakukan? Jawabannya terletak pada pentingnya sarapan. Banyak siswa sering kali melewatkan makan pagi karena terburu-buru, padahal perut yang terisi adalah kunci konsentrasi dan daya serap otak yang optimal.

Untuk mendukung hal tersebut, setiap peserta didik SMP Negeri 9 Malang mendapatkan satu bungkus Roma Bonita. Di pagi yang cerah, seluruh siswa menikmati bolu lembut ini bersama-sama. Keceriaan terpancar dari wajah para siswa saat menyantap sarapan ringan ini.

Sesuai dengan tagline-nya, “Roma Bonita, Bolu Lembut Penuh Cinta” (atau sesuaikan dengan tagline terkini di kemasan), kue ini tidak hanya memberikan rasa kenyang, tetapi juga menghadirkan kehangatan rasa “rumah” di sekolah. Kelembutan bolunya menjadi simbol kasih sayang sekolah kepada para siswanya, memastikan mereka siap menghadapi pelajaran dengan energi penuh.

Disiplin di Balik Kemasan

Namun, pendidikan di SMP Negeri 9 Malang tidak berhenti pada rasa nikmat semata. Momen makan bersama ini dimanfaatkan sebagai media pembelajaran karakter yang krusial, yaitu tanggung jawab terhadap kebersihan.

Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang bersih dari sampah. Oleh karena itu, setelah menikmati Roma Bonita, para siswa diberikan instruksi tegas namun mendidik: bungkus makanan harus dibuang pada tempatnya.

Guru dan pendamping memastikan tidak ada satu pun sampah plastik yang tertinggal di laci meja atau tercecer di lantai lapangan. Siswa diajarkan untuk:

  1. Menghabiskan makanan dengan tertib.

  2. Merapikan bungkus bekas makanan.

  3. Membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan sesuai jenisnya.

Hal ini menanamkan kesadaran bahwa “habis makan, terbitlah tanggung jawab”. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk penghargaan siswa terhadap sekolah dan teman-temannya.

Harapan Kedepannya

Melalui perpaduan antara asupan gizi dari Roma Bonita dan praktik disiplin kebersihan ini, besar harapan SMP Negeri 9 Malang dapat mencetak generasi yang seimbang.

Ke depannya, diharapkan budaya sarapan pagi menjadi kebiasaan mandiri siswa agar selalu fokus dalam belajar. Di sisi lain, budaya “lihat sampah, ambil, dan buang” diharapkan menjadi refleks otomatis setiap warga sekolah. Dengan tubuh yang sehat dan lingkungan yang terjaga, SMP Negeri 9 Malang optimis dapat terus menjadi rumah kedua yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

Leave a Reply


The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.